Pacar Beda Agama

# Dilihat: 47 pengunjung
  • Bagikan
Ilustrasi
Ilustrasi

Saya pemuda 25 tahun, mantan mahasiswa. Saya ingin meminta pendapat dan nasehat dari bapak. Setelah membaca tulisan-tulisan bapak, saya merasa harus mengambil keputusan terhadap mantan pacar saya E,21 tahun seorang mahasiswi.

Saya beragama Kristen dan mantan pacar beragama Islam fanatik. Sebenarnya saya mulai mengenal E sekitar 2 tahun lalu. Tapi baru tertarik setelah setengah tahun terakhir ini. Sejak kami terlibat dalam suatu kegiatan di kampus akhirnya menjadi pacar saya.

Terus terang, saya bersyukur karena diingatkan kembali kepadaNya. Saya mulai rajin berdoa dan membaca Alkitab. Ini pacaran kedua bagi saya setelah “kosong” hampir 2 tahun.

Dari E saya dapatkan figur wanita idaman. Perlu bapak ketahui, selama masa “kosong” itu, ada beberapa wanita yang membuat saya tertarik. Tapi akhirnya saya mundur karena merasa tidak cocok dalam komunikasi dan sense of humor.

E mengetahui masalah apa yang akan ia hadapi jika menjadi pacar saya. Menurut saya, biarlah kami berjalan bersama saat ini, walau akhirnya menemukan persimpangan jalan dan harus memilih berpisah, mengalah, atau jalan terus dengan keyakinan masing-masing.

Ternyata, persimpangan itu sangat dekat. Satu bulan berjalan, persimpangan sudah muncul. Diantara kami tidak ada yang mau mengalah. Berjalan terus dengan keyakinan sendiri juga sulit karena hukum agama masing-masing.

Akhirnya, saya mencoba mengikuti saran bapak. Kami berpisah,  untuk suatu saat bertemu lagi dalam kondisi berbeda. Ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan:

  1. Boleh dibilang, saya mengenal E dengan akrab sekitar 2-3 bulan. Tapi saya sudah berasa mengenalnya cukup banyak. Kami bisa bicara terbuka mengenai apa saja, kecuali masalah seks. Apakah ini cukup?
  2. Manusia diajarkan Tuhan untuk saling mengasihi. Tapi mengapa karena Dia pula lah maka kami harus berpisah?
  3. Percayakah Bapak kepada nasib dan jodoh? karena saya masih mengharapkan E untuk kembali.
  4. Kegagalan saya dengan E menjadi berlipat. Sebagai laki-laki saya gagal memberikan yang terbaik untuk dia, keluarga E mengetahui hubungan kami dan marah. Kami akhirnya pacaran back street, hal yang paling tidak saya sukai. E lebih banyak berkorban untuk saya. Sebagai orang beragama, saya gagal mambawa E untuk mengenal Dia yang saya percayai. Apakah sikap saya berlebihan?
  5. Untuk masalah dengan wanita, saya tidak pernah main-main dan pasti serius. Bahkan orangtua saya juga mengatakan, saya terlalu serius. Tapi saya sendiri tidak pernah mengetahui batas atara serius dan tidak. Bagaimana menurut pandangan Pak Iman?. Di lingkungan kerja yang akan saya tempuh, jelas pilihan teman wanita akan menjadi sedikit. Mohon petunjuk dan saran Bapak.

Desember 1992 ABS di J

SEPERTI yang dimuat dalam rubrik “Psikoproblem”, perkawinan beda agama merupakan masalah rumit dan sensitif. Beda agama berarti perbedaan keyakinan religius yang sangat fundamental.

Perkawinan bisa memerlukan periode penyesuaian antara suami dan istri sekitar 1 sampai 6 tahun. Apalagi perkawinan yang memiliki perbedaan sangat fundamental.

Dari kacamata ini, periode 3 bulan mengenal pacar mungkin belum berarti apa-apa. Bahkan tidak jarang suami istri yang telah menikah 2 tahun masih sering menemukan kejutan-kejutan tingkah laku pasangannya. Melihat usia Anda yang masih muda, saya pribadi berpendapat 3 bulan belum cukup untuk mengenal dan memahami sepenuhnya pribadi sang pacar.

Sebagai insan beragama, ada keyakinan bahwa apa yang ditentukan oleh Tuhan merupakan sesuatu yang terbaik buat kita. Atas dasar keimanan ini, segala yang terjadi pada diri kita, entah itu penderitaan, kesedihan, kesengsaraan atau kebahagiaan pasti ada maksud tersendiri.

Atas dasar itu, mengapa Anda tidak berpikir bahwa hambatan-hambatan yang ditemui sewaktu pacaran merupakan pertanda dari Yang Maha Kuasa agar Anda terhindar dari sesuatu yang lebih parah.

Dengan kata lain, segala sesuatu pasti ada hikmahnya, bila Anda berpikir positif, cepat atau lambat jodoh itu akan datang dengan sendirinya. Jangan putus asa. (ISS)

Penjelasan Redaksi

  • Bagikan