Corona Mewabah Interaksi Manusia Berubah

# Dilihat: 51 pengunjung
  • Bagikan

Oleh: Rosid

SAAT wabah Corona atau Covid-19 menyerang kota Wuhan beberapa waktu lalu. Warga masyarakat dibelahan dunia masih menganggap hal biasa. Bersalaman ataupun berjabat tangan menjadi hal yang lumrah dalam bersosialisasi. Kini semuanya berubah setelah virus mematikan ini menyerang ke berbagai negara di penjuru belahan dunia.

Bahkan kehidupan beragama pun mulai berubah. Kegiatan keagamaan ditempat ibadah mulai berkurang. Terlebih umat islam sedunia amat terpukul dengan kebijakan pemerintah Arab Saudi dalam mencegah penyebaran virus Corona. Mereka menutup Mekah dan Madinah untuk dikunjungi.

Langkah terus berlanjut hingga penyetopan sementara kegiatan umroh. Ada yang sudah berangkat, kemudian dipulangkan karena kebijakan ini. Arab Saudi kemudian membuka kembali Masjidil Haram untuk para peziarah. Tapi larangan mengunjungi Mekah dan Madinah masih diberlakukan.

180 derajat, Interaksi manusia kini berubah sejak corona menyerang diberbagai negara terutama Indonesia. Terlebih, saat orang pertama di Indonesia berusia 31 tahun diduga terjangkit virus corona ketika berada di sebuah restoran di Jakarta pada 14 Februari 2020 lalu.

Penularan tersebut berasal dari warga Jepang yang saat itu juga sedang di tempat yang sama. WNI dan warga negara Jepang yang tinggal di Malaysia itu diketahui melakukan kontak cukup dekat atau close contact. Kontak yang dimaksud dekat adalah jarak yang memungkinkan virus itu menular.

Pasien 1 itu kemudian melakukan kontak dengan Pasien 2, yang merupakan ibunya. Sang ibu tertular virus corona saat sedang merawat anaknya yang sakit. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyebutkan bahwa dua orang itu tinggal di Depok, Jawa Barat.

Sejak saat itu, media online, televisi, radio maupun cetak giat memberitakan perkembangan Virus Corona atau Covid-19. Pemerintah,  tim medis dan aparat kepolisian langsung mengambil tindakan terkait mewabahnya virus ini. Serta melakukan sosialisasi kepada warga di seluruh Indonesia.

Di Indonesia sendiri, Ibukota Jakarta menjadi tempat yang rawan terjangkit hingga statusnya masuk kategori Zona Merah, menyusul di daerah-daerah lain. Jumlah pasien positif corona di DKI Jakarta yang terus meroket memicu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperpanjang waktu Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB di Ibu Kota.

Kegiatan pendidikan dan keagamaan tak diizinkan agar meminimalisasi warga berkerumun di luar rumah dan tempat umum. Kekhawatiran warga terutama didaerah semakin menjadi setelah warga yang merantau di Kota Jakarta, pulang kampung halamannya masing-masing. Bagaimana tidak, pandemi Covid-19 ini mau tak mau meruntuhkan perekonomian di Indonesia.

Aktivitas warga mulai berkurang di lingkungan luar. Para pekerja kantoran bekerja hanya dirumah. Usaha kecil seperti halnya pedagang, ojek online dll, turut berdampak akbat pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan usai. Ribuan karyawan di seluruh Indonesia terpaksa di PHK.

Untuk skala Nasional, Juru Bicara Pemerintah Khusus Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto dalam konferensi pers, di Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (18/4), menyampaikan, jumlah pasien positif terinfeksi virus corona (Covid-19) di Indonesia bertambah 325 orang, sehingga total ada 6.248. Dari jumlah tersebut, sebanyak 535 di antaranya meninggal dunia dan 631 orang dinyatakan telah sembuh dari Covid-19.

Sementara di Provinsi Lampung, seperti dirilis Dinas Kesehatan Provinsi Lampung periode 18 Maret – 17 April 2020 pukul 10.00 WIB. Total ODP 2789, 1 meningal dunia. Total PDP 5, 14 orang diantaranya dirawat /diisolasi, 33 orang dinyatakan sembuh, 5 positif meninggal dunia.

Positif Corona berjumlah 26 orang, 11 dirawat, 10 orang dinyatakan sembuh. 5 orang meninggal dunia.

Di negara lain sudah menerapkan lockdown, justru Indonesia tak menerapkan. Memang, bukan perkara mudah pemerintah memutuskan lockdown. Banyak pertimbangan selain perekonomian yang berdampak. Stok pangan untuk seluruh warga di Indonesia harus benar-benar dipertimbangkan secara matang.

Kini, bulan suci Ramadhan tinggal menunggu hari, stok pangan dan lainnya dikhawatirkan akan berdampak jika di puasa pertama harga sembako melambung tinggi. Terlebih larangan pulang kekampung halaman oleh kepala daerah hampir di seluruh provinsi menegaskan agar tidak pulang kampung bagi warganya di perantauan.

Jangan sampai ada banyak korban bagi pahlawan digarda depan seperti dokter dan perawat serta relawan-relawan lainnya. Kita sebagai manusia biasa hanya bisa berharap dan berdoa, kapan wabah ini usai??.

Harapan kita, tentunya interaksi manusia kembali seperti dulu lagi. Tak ada lagi rasa khawatir saat kita berjabat tangan. Baik kepada orang yang kita kenal, maupun yang baru kita kenal sekalipun. (*)

  • Bagikan