Kenapa Banyak Rumah Sakit Fokus ke Harga, Padahal Masalah Stretcher Justru Muncul Saat Transfer Pasien

Formatberita.com — Saya pernah diminta membantu audit kecil-kecilan pada alur perpindahan pasien di sebuah fasilitas layanan kesehatan yang sedang mengejar percepatan respons IGD. Awalnya semua orang mengira bottleneck ada pada jumlah petugas, layout koridor, atau koordinasi antar-unit. Ternyata setelah diamati beberapa hari, hambatan paling sering justru muncul dari hal yang dianggap sepele: pemilihan stretcher yang tidak sesuai ritme kerja lapangan.

Masalahnya bukan semata-mata soal “ada atau tidak ada” alat angkut pasien. Di lapangan, yang membedakan alat bantu biasa dengan alat bantu yang benar-benar menunjang layanan adalah detail teknis. Sistem rem yang kurang responsif membuat posisi bed sulit distabilkan saat pemindahan pasien. Guard rail yang desainnya tidak intuitif bisa memperlambat proses naik-turun pasien, terutama ketika petugas bekerja dalam tekanan waktu. Diameter roda yang terlalu kecil juga sering membuat laju stretcher tersendat di sambungan lantai, area miring, atau transisi antar-ruang.

Dampaknya bukan cuma pada kenyamanan. Dalam konteks IGD dan ruang rawat, setiap detik keterlambatan transfer bisa menambah beban kerja petugas dan meningkatkan risiko handling yang tidak ergonomis. Saya sering melihat pengadaan alat terlalu fokus pada tampilan umum dan harga satuan, padahal unit yang terlihat mirip bisa punya performa lapangan yang sangat berbeda. Karena itu, saya biasanya menyarankan tim pengadaan untuk membaca dulu referensi yang membahas secara spesifik soal catatan teknis memilih stretcher untuk area IGD, terutama sebelum menyusun spesifikasi tender atau pembelian langsung.

Ada tiga pertanyaan sederhana yang menurut saya wajib dijawab sebelum memilih unit. Pertama, apakah rem bisa diaktifkan cepat dan stabil oleh petugas dari posisi kerja yang wajar? Kedua, apakah guard rail aman namun tidak merepotkan saat akses pasien dibutuhkan segera? Ketiga, apakah roda cukup mendukung mobilitas di permukaan nyata, bukan hanya di brosur? Tiga hal ini terdengar kecil, tetapi justru menentukan apakah alat akan membantu alur layanan atau malah menambah friksi.

Saya juga mendorong manajemen untuk mengajak perawat, petugas transport pasien, dan teknisi pemeliharaan ikut memberi masukan. Orang procurement sering hanya melihat spesifikasi kertas. Sementara pengguna harian memahami benar momen ketika alat harus bergerak cepat, berhenti stabil, dan tetap aman. Sinergi perspektif ini biasanya menghasilkan keputusan yang jauh lebih matang.

Dalam pengadaan fasilitas kesehatan, kita terlalu sering menghitung biaya beli tanpa menghitung biaya gesekan operasional. Padahal alat yang salah spesifikasi bisa memunculkan biaya tersembunyi: waktu transfer lebih lama, keluhan petugas, risiko cedera muskuloskeletal, bahkan persepsi layanan yang menurun. Jika rumah sakit sedang mengejar efisiensi layanan akut, maka mengevaluasi stretcher bukan pekerjaan pelengkap. Itu bagian dari desain sistem kerja klinis yang lebih aman dan lebih cepat.

Bagi saya, alat transport pasien yang baik bukan yang paling ramai dipasarkan, melainkan yang paling minim menambah masalah saat situasi sedang sibuk. Dan itu hanya bisa dicapai kalau keputusan pembelian didasarkan pada konteks penggunaan nyata, bukan sekadar harga dan penampilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seedbacklink